Sabtu, 23 Maret 2013




EFEK PEMBERIAN TANIN TERHADAP FERMENTASI RUMEN


              Pakan utama ternak ruminansia, hijauan atau limbah pertanian seperti jerami padi,  memiliki kadar serat kasar yang tinggi. Komponen terbesar dari serat kasar adalah berupa dinding sel yang terdiri dari selulosa, hemiselulosa, dan lignin. Produk akhir dari aktivitas mikroba dalam mendegradasi substrat dinding sel tanaman adalah berupa asam lemak terbang (VFA). Komponen VFA yang utama adalah asam asetat, asam propionat, asam butirat, dan sejumlah kecil asam valerat. Selain menghasilkan asam lemak rantai pendek (short-chain fatty acid-SCFA), fermentasi karbohidrat dalam rumen akan menghasilkan sejumlah gas dan sel mikroba.
           Asam lemak terbang yang dihasilkan dari fermentasi karbohidrat merupakan sumber energi bagi ternak inang. Pada proses fermentasi ini juga dihasilkan produk-produk yang tidak berguna bagi ternak seperti CH4, ammonia, dan nitrat. Usaha-usaha peningkatan efisiensi penggunaan energi dari pakan telah banyak dan terus dilakukan, salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah dengan cara manipulasi proses fermentasi yang terjadi dalam rumen dalam cara mengubah ekologi rumen yang pada akhirnya bertujuan meningkatkan produk fermentasi yang diharapkan dan dapat menekan hasil fermentasi yang kurang bermanfaat.
            Manipulasi rumen dengan memproteksi protein dan tanin dengan kadar tanin tertentu dapat meningkatkan produksi ternak ruminansia. Kadar tanin yang digunakan harus dapat lepas pada saat memasuki kompleks intestinum sehingga dapat diabsorbsi. Protein yang seharusnya diproteksi adalah protein yang berkualitas. Protein yang berkualitas memilki susunan asam amino esnsial dan dapat terabsorbsi.
              Tanin merupakan senyawa polifenolik dengan bobot molekul yang tinggi dan mempunyai kemampuan mengikat protein. Tanin terdiri dari katekin, leukoantosiannin dan asam hidroksi yang masing-masing dapat menimbulkan warna bila bereaksi dengan ion logam. Tanin terdiri dari dua kelompok, yaitu condensed tanin dan hydrolizeable tanin. Kelompok condensed tanin merupakan tipe tanin yang terkondesasi,tahan terhadap degradasi enzim, tahan terhadap hidrolisa asam, dimetilasi dengan penambahan metionin. Condensed tanin diperoleh dari kondesasi flavanol-flavanol yang tidak mengandung gula dan mengikat protein sangat kuat sehingga menjadi rusak ( Widodo, 2005 ).

Gambar. Struktur Tanin
Tanin dapat berpengaruh terhadap ternak ruminansia semenjak bahan pakan yang mengandung tanin dikonsumsi, perlu diketahui bahwa tanin merupakan metabolite skunder yang ekskrsikan untuk sistem proteksi, sistem proteksi dengan mekanisme pengikatan protein menjadikan protein akan sukar terdegradasi. Menurut makkar (1993), tanin dapat menonaktifkan enzim-enzim yang dihasilkan oleh mikrobia rumen, disamping dapat mengakibatkan keracunan bagi mikrobia. Hal ini mungkin diakibatkan oleh ikatan antara lain dengan dinding sel yang dapat mengganggu permiabilitas dinding sel mikrobia tersebut.
Tanin dapat berfungsi untuk memproteksi protein dengan kadar dan konsentrasi tertentu. Menurut Suryahadi et al., (2000), meode ini dikenal sebagai metode by passing dimana zat makanan dilindungi dari proses degradasi oleh mikrobia rumen karena degradasi oleh mikrobia rumen dapat menurunkan suplai zat makanan yang dapat dimamfaatkan langsung oleh hewan inang. Menurut Nyachoti et al ( 1997), interaksi tanin dengan protein terjadi melalui ikatan kovalen. Setiap intraksi protein-tanin memperlihatkna kinetic yang berbeda-beda tergantung pada struktur tanin,  pH dan senyawa lainnya. Komposisi dan polimerasi tanin merupaan faktor penting dalam menentukan kemampuannya membentuk kompleks tanin dan protein.

Daftar pustaka
Makkar, H. P. S. and K. Bukker. 1995. Degradation of condesed tannins by rumen mikrobes exposed to quebracho tannins (QT) in rumen simulation technique (RUSITEC) and effect of  QT on fermentative processes in the RUSITEC. J. Sci. Food Agric. 69: 495-500.
Nyachoti, C. M., J. L, Atkinson and S. Lesson. 1997 Shorgum tannins: a review. World’s journal poultry sci. 53:5-21.
Suryahadi, F. Y., 1995. Studi Awal terhadap kandungan protein, tanin dan serat detergen netral daun Caliandra colotyhrsus dengan perlakuan poliethilina glikol dan kapur dalam saluran pencernaan kelinci. FMIPA. Universitas Pakuan. Bogor
Widodo, W. 2005. Tanaman beracun dalam khidupan ternak. UMM Press. Malang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar