Foto bersama Penulis (Askari Zakariah) bersama rekan-rekan PKL dan Tim Audit Internal PT. Charoen Pokphand
Pakan merupakan faktor yang memiliki pengaruh yang cukup besar dalam pembiayaan suatu industri peternakan.
Minggu, 24 Maret 2013
Sabtu, 23 Maret 2013
EFEK PEMBERIAN TANIN TERHADAP FERMENTASI RUMEN
Pakan utama
ternak ruminansia, hijauan atau limbah pertanian seperti jerami padi, memiliki kadar serat kasar yang tinggi.
Komponen terbesar dari serat kasar adalah berupa dinding sel yang terdiri dari
selulosa, hemiselulosa, dan lignin. Produk akhir dari aktivitas mikroba dalam
mendegradasi substrat dinding sel tanaman adalah berupa asam lemak terbang
(VFA). Komponen VFA yang utama adalah asam asetat, asam propionat, asam
butirat, dan sejumlah kecil asam valerat. Selain menghasilkan asam lemak rantai
pendek (short-chain fatty acid-SCFA), fermentasi karbohidrat dalam rumen akan
menghasilkan sejumlah gas dan sel mikroba.
Asam lemak terbang yang dihasilkan dari fermentasi karbohidrat merupakan
sumber energi bagi ternak inang. Pada proses fermentasi ini juga dihasilkan
produk-produk yang tidak berguna bagi ternak seperti CH4, ammonia,
dan nitrat. Usaha-usaha peningkatan efisiensi penggunaan energi dari pakan
telah banyak dan terus dilakukan, salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah
dengan cara manipulasi proses fermentasi yang terjadi dalam rumen dalam cara
mengubah ekologi rumen yang pada akhirnya bertujuan meningkatkan produk
fermentasi yang diharapkan dan dapat menekan hasil fermentasi yang kurang
bermanfaat.
Manipulasi rumen dengan
memproteksi protein dan tanin dengan kadar tanin tertentu dapat meningkatkan
produksi ternak ruminansia. Kadar tanin yang digunakan harus dapat lepas pada
saat memasuki kompleks intestinum sehingga dapat diabsorbsi. Protein yang
seharusnya diproteksi adalah protein yang berkualitas. Protein yang berkualitas
memilki susunan asam amino esnsial dan dapat terabsorbsi.
Tanin merupakan senyawa polifenolik dengan bobot molekul yang tinggi dan
mempunyai kemampuan mengikat protein. Tanin terdiri dari katekin,
leukoantosiannin dan asam hidroksi yang masing-masing dapat menimbulkan warna
bila bereaksi dengan ion logam. Tanin terdiri dari dua kelompok, yaitu
condensed tanin dan hydrolizeable tanin. Kelompok condensed tanin merupakan
tipe tanin yang terkondesasi,tahan terhadap degradasi enzim, tahan terhadap
hidrolisa asam, dimetilasi dengan penambahan metionin. Condensed tanin
diperoleh dari kondesasi flavanol-flavanol yang tidak mengandung gula dan
mengikat protein sangat kuat sehingga menjadi rusak ( Widodo, 2005 ).
Gambar. Struktur Tanin
Tanin dapat berpengaruh terhadap ternak ruminansia
semenjak bahan pakan yang mengandung tanin dikonsumsi, perlu diketahui bahwa
tanin merupakan metabolite skunder yang ekskrsikan untuk sistem proteksi,
sistem proteksi dengan mekanisme pengikatan protein menjadikan protein akan
sukar terdegradasi. Menurut makkar (1993), tanin dapat menonaktifkan
enzim-enzim yang dihasilkan oleh mikrobia rumen, disamping dapat mengakibatkan
keracunan bagi mikrobia. Hal ini mungkin diakibatkan oleh ikatan antara lain
dengan dinding sel yang dapat mengganggu permiabilitas dinding sel mikrobia
tersebut.
Tanin dapat berfungsi untuk memproteksi protein
dengan kadar dan konsentrasi tertentu. Menurut Suryahadi et al., (2000), meode
ini dikenal sebagai metode by passing dimana zat makanan dilindungi dari proses
degradasi oleh mikrobia rumen karena degradasi oleh mikrobia rumen dapat
menurunkan suplai zat makanan yang dapat dimamfaatkan langsung oleh hewan
inang. Menurut Nyachoti et al ( 1997), interaksi
tanin dengan protein terjadi melalui ikatan kovalen. Setiap intraksi
protein-tanin memperlihatkna kinetic yang berbeda-beda tergantung pada struktur
tanin, pH dan senyawa lainnya. Komposisi
dan polimerasi tanin merupaan faktor penting dalam menentukan kemampuannya
membentuk kompleks tanin dan protein.
Daftar
pustaka
Makkar, H. P. S. and K. Bukker. 1995. Degradation of condesed tannins by
rumen mikrobes exposed to quebracho tannins (QT) in rumen simulation technique
(RUSITEC) and effect of QT on
fermentative processes in the RUSITEC. J. Sci. Food Agric. 69: 495-500.
Nyachoti, C. M., J. L, Atkinson and S. Lesson. 1997
Shorgum tannins: a review. World’s journal poultry sci. 53:5-21.
Suryahadi, F. Y.,
1995. Studi Awal terhadap kandungan protein, tanin dan serat detergen netral
daun Caliandra colotyhrsus dengan perlakuan poliethilina glikol dan kapur dalam
saluran pencernaan kelinci. FMIPA. Universitas Pakuan. Bogor
Widodo, W. 2005. Tanaman beracun dalam
khidupan ternak. UMM Press. Malang.
Sistem Agroforestry (Pola Pertanian Terpadu) Di Daerah Istimewa Yogyakarta
PENDAHULUAN
Pakan merupakan faktor yang
sangat penting dalam sebuah peternakan. Biaya untuk pakan sebesar 70-80% dari
biaya produksi, sehingga dirasa perlu adanya perhatian dalam persedian pakan
baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Tanaman hijauan pakan untuk ternak
ruminansia menjadi point central demi
tercapainya swasembada daging sapi dan kerbau 2014. Kebutuhan pokok konsumsi
tanaman hijauan untuk setiap harinya berkisar 10% dari berat badan ternak,
sehingga dirasa perlu untuk meningkatkan produktivitas suatu lahan untuk
mencukupi kebutuhan tersebut. Menurut (Sunarminto, 2010) sukses tidaknya
industri peternakan di Indonesia, khususnya industri ternak ruminansia
tergantung pada beberapa faktor. Salah satu faktor yang sangat penting adalah
pengemabangan tanaman untuk penyedian pakan utamanya yang berupa hijauan.
Semakin menyempitnya lahan pertanian subur
karena banyak digunakan sebagai pemukiman,
perkantoran, maupun fasilitas umum lainnya, menyebabkan perlunya upaya pemanfaatan lahan kering secara lebih intensif untuk
budi daya tanaman pangan, perkebunan dan tanaman pakan serta peternakan.
Perlunya peningkatan produktivitas untuk
mendukung ketersediaan pakan sepanjang tahun.
TINJAUAN PUSTAKA
Struktur lahan di daerah
pantai berbeda dengan di daerah pengunungan, demikian pula susunan vegetasinya
di kota berlainan dengan di daerah pedesaan. Umumnya struktur vegetasi lahan
terutama pekarangan di pedesaan mempunyai keanekaragaman tanaman yang besar,
mulai dari tanaman yang tumbuh menjalar diatas permukaan tanah sampai tanaman
yang mempunyai tinggi lebih besar dari 20 meter (Karyono,1980). Budidaya lorong (alley
cropping) dengan menggunakan leguminosa sebagai tanaman pagar (misalnya
lamtoro) dinilai mampu meningkatkan keberadaan bahan organik tanah. Pada lahan kering di daerah beriklim kering,
pengembangan usaha tani diarahkan untuk memanfaatkan lahan datar di pelembahan,
dengan kendala populasi gulma yang tinggi.
Pada kondisi demikian tampaknya sistem tumpang sari dan introduksi
tanaman tahunan cukup memberikan harapan. Menurut Beets (1982), pola tanam tumpangsari adalah bentuk pertamanan campuran
antara jenis – jenis tanaman yang ditanam dalam jarak dan baris – baris yang
teratur. Salah satu bentuk pola tanam tumpangsari termasuk juga pertamanan
campuran antara tanaman ekonomi dengan tanaman makanan ternak (Humphreys,
1979).
Edris dan soessono (1987),
komposisi jenis merupkan susunan dan jumlah jenis yang terdapat dalam komunitas
tumbuhan. Untuk mengetahui komposisi jenis suatu tegakan, maka identifikasi
jenis, jumlah serta susunannya menjadi hal yang wajib yang tak boleh dilupakan.
Menurut Mahendra (2009), komposisi jenis pada pekarangan/ hutan tanaman
merupaka komposisi yang disengaja, artinya jenis-jenis yang ditanam di
pekarangan/ hutan tanaman merupakan jenis-jenis yang terpilih, sesuai keinginan
pemilik. Akibat pemilihan jenis ini, maka terjadi kekhasan yaitu cendrung pada
jenis-jenis ang bermamfaat dan memilki nilai ual tinggi.
Menurut Soetikno (1990),
vegetasi menggambarkan perpaduan berbagai jenis tanaman di suatu wilayah atau
daerah. Suatu tipe vegetasi menggambarkan suatu daerah dari segi penyebaran
tumbuhan yang ada baik secara ruang maupun waktu. Menurut mahendra (2009),
penerapan sistem agroforestry membuat struktur dan komposisi jenis suatu
kawasan menjadi berbeda. Hal ini bisa kita bandingkan dengan tegakan murni atau
penanaman dengan monokultur. Komposisi jenisnya pasti akan berbeda. Sistem
agroforestry yang meniru hutan alam, memilki jenis yang beragam, struktur
vegetasinya pun bisa mendekati hutan alam. Kelimpahan seedling, sapling, poles
dan treesnya semakin tinggi seiring dengan pertamabahan fase agroforestrinya.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Secara umum sistem agroforestry pada suatu
daerah tidak dapat langsung ditiru, meskipun perkembangannya ditempat asalnya
sangat maju. Hal ini disebabkan faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi
bentuk agroforestry yang akan diterapkan disuatu daerah sistem agroforestry
yang baik adalah sistem yang bersifat produktif, sustainable dan bisa diadopsi
oleh warga pada suatu daerah. Sistem
Agroforestry merupakan alternatip pengembangan pertanian lestari di lahan
kering dataran tinggi perlu mendapat perhatian, serta kesungguhan untuk dicoba
penerapannya dalam rangka meningkatkan pendapatan petani dan kesejahteraan
keluarganya. Sistem agroforetry yang berprinsip LEISA (Low External Input
Sustainable Agriculture) memanfaatkan bahan lokal, benih lokal, teknologi
lokal, dan kearifan lokal sangat dapat berkembang baik disuatu wilayah
Fungsi agroforestry pada suatu daerah akan pasti berbeda. Secara kesuluruhan peran agroforestry dalam ekosisitem menurut mahendra (2009) adalah menjaga kestabilan ekosisitem ditandai dengan keanekaragaan hayati yang tinggi, menjaga kestabilan tanah dan ketersediaan unsure hara dalam tanah, menjaga tata air dan ketersedian air tanah untuk proses fisiologi tanaman, memperbaiki struktur tanah, meminimalisisr dampak pemanasan global, meninkatkan swasembada dan mengurangi resiko hilangnya pendapatan karena pengaruh pasar atau biologi pada tanaman tertentu.
Penerapan agroforestry memiliki dua sisi yaitu sisi ekologi dan ekonomi, sehingga aspek pemilihan dan rencana jangka panjang akan menentukan yang dominan diantara keduanya. Banyak kasus dilapangan seperti over logging dan over area sering terjadi karena kurang memperhatikan aspek ekologi. Pendekatan ekonomi menjadikan produksi tanaman pokok yang ditanam untuk dijual akan dominan disuatu lahan menggeser tanaman kayu. Kondisi dan pengetahuan petani akan mempengaruhi penerapan agroforestry yang akan diterapkan. Pola tanam pada suatu daearah akan berbeda dengan daerah lain. Hal ini dipengaruhi oleh jenis tanaman yang ditanam, kontur tanah, dan lain-lain. Menurut Mahendra (2009), sistem agroforestry memilki pola tanam tertentu dalam mengkombinasikan komponen penyusunnya dalam satu ruang dan waktu. Pola ini dibentuk agar tidak terjadi interaksi negative antar komponen penyusunya. Interaksi negative dapat berupa kompetisi antar tanaman.
Penerapan agroforestry memiliki dua sisi yaitu sisi ekologi dan ekonomi, sehingga aspek pemilihan dan rencana jangka panjang akan menentukan yang dominan diantara keduanya. Banyak kasus dilapangan seperti over logging dan over area sering terjadi karena kurang memperhatikan aspek ekologi. Pendekatan ekonomi menjadikan produksi tanaman pokok yang ditanam untuk dijual akan dominan disuatu lahan menggeser tanaman kayu. Kondisi dan pengetahuan petani akan mempengaruhi penerapan agroforestry yang akan diterapkan. Pola tanam pada suatu daearah akan berbeda dengan daerah lain. Hal ini dipengaruhi oleh jenis tanaman yang ditanam, kontur tanah, dan lain-lain. Menurut Mahendra (2009), sistem agroforestry memilki pola tanam tertentu dalam mengkombinasikan komponen penyusunnya dalam satu ruang dan waktu. Pola ini dibentuk agar tidak terjadi interaksi negative antar komponen penyusunya. Interaksi negative dapat berupa kompetisi antar tanaman.
Pola tanam pada dataran tinggi yang diamati ada dua yaitu random dan alley cropping. Pola tanam random terbentuk karena tidak adanya perencanaan awal dalam tata letak dan guna lahan. Para petani dengan bebas menanam tanaman disuatu lahan tanpa memperhatikan pola tanam. Pola
tanam alley cropping pada dataran tinggi berfungsi untuk mengurangi laju air
pada saat hujan,sehingga mengurangi erosi, hilangnya unsur hara tanah,
meningkatkan daya ikat air oleh tanah.Menurut Huke dan Plecan (1992),
keuntungan dari pola alley cropping adalah melindungi tanaman dari angin
kencang dan cahaya yang berlebihan, menghasilkan pakan ternak dan konservasi
tanah.
Gambar 2. Pola tanam Alley cropping pada dataran tinggi
Pola
tanam alley cropping yang terlihat pada gambar diatas memiliki komponen berupa
tanaman jagung dan kedelai. Kedelai merupakan salah satu tanaman penambat
nitrogen, hampir
tidak ada tanaman dapat tumbuh tanpa adanya nitrogen (N) dan kebanyakan tanah
di daerah tropis telah diketahui memiliki cadangan N rendah. Namun, tidak
demikian halnya dengan tanaman penambat N, mereka semata-mata tidak tergantung
dengan cadangan N dalam tanah tetapi mereka mampu menambatnya melalui simbiosis
dengan mikroba tanah. Oleh karena itu beberapa spesies tanaman penambat N
menjadi penting bagi kelangsungan hidup keluarga pedesaan di daerah tropis
sebagai penyedia berbagai produk dan jasa.
Karda dan Spudiati (2012) melaporkan berbagai fungsi tanaman penambat N antara lain
sebagai sumber kayu api dan arang, pakan, penyubur tanah, kayu bangunan dan
sebagai pangan untuk manusia.
Pola
tanam pada dataran rendah dan daerah pesisir pantai memiliki pola yang sama
yaitu Trees along border, hal ini dimungkinkan karena berfungsi sebagai
pelindung. Daerah pesisir pantai sangat membutuhkan pelindung, angin yang
berasal dari arah pantai akan membawa molekul-molekul garam yang dapat
menghambat pertumbuhan tanaman bahkan mematikan. Agen wind break sangat diperlukan seperti tanaman cemara ekor udang dan
pandan. Untuk mencapai keberhasilan usaha tani
berkelanjutan di lahan kering perlu memperhatikan beberapa faktor yang
mendukung peningkatan produksi serta faktor-faktor yang mempengaruhi proses
degradasi lahan. Peningkatan produksi di
lahan kering dapat dicapai melalui cara budidaya tanaman yang tepat seperti :
diversifikasi tanaman (multiple cropping),
penggunaan varietas unggul, pengolahan tanah yang tepat, pola tanam sesuai
ekosistem, pemupukan, pengelolaan air, pengendalian hama terpadu, pengendalian
gulma, serta upaya konservasi tanah dan air. Pola Trees along border
sangat cocok untuk dikombinasikan dengan tanaman cemara ekor udang yang
berfungsi sebagai melindungi dari uap garam yang dapat menghambat tanaman
pokok.
Gambar 3. Pohon cemara ekor udang
(kiri), pandan yang mengililigi lahan (kanan)
Tanah
pada daerah pesisir yang berpasir menyebabkannya tidak subur dan mendukung
pertumbuhan tanaman maka perlu penambahan bahan organic pada lahan tersebut, biasanya
ditambahkan biomulsa dan pupuk organic. Upaya untuk meningkatkan manfaat ternak sapi adalah
mengusahakannya secara terpadu dengan tanaman atau dikenal dengan sistem
integrasi tanaman-ternak. Sistem ini
memberikan keuntungan kepada petani-peternak karena : 1) pupuk kompos dari
kotoran ternak sapi dapat meningkatkan kesuburan tanah dan sebagai sumber
pendapatan, 2) ternak dapat dimanfaatkan sebagai tenaga kerja dan juga sumber
pendapatan bila disewa oleh petani lain yang tidak memiliki ternak sapi, 3)
limbah tanaman pokok bermanfaat sebagai
pakan sehingga mengurangi biaya penyediaan pakan (Elly et al., 2008).
Ada tiga komponen
teknologi utama dalam sistem integrasi tanaman-ternak di lahan kering : (a)
teknologi budidaya ternak; (b) teknologi budidaya tanaman; (c) teknologi
pengolahan limbah pertanian untuk pakan dan pembuatan kompos. Teknologi dalam budidaya ternak adalah
pengandangan ternak dalam pola kelompok, yang dibarengi dengan penerapan
teknologi pemeliharaan ternak, termasuk strategi pemberian pakan. Teknologi budidaya tanaman yang biasa
diusahakan di lahan kering berupa sistim tumpang sari. Teknologi pengolahan limbah pertanian sebagai
pakan ternak menjadi salah satu kunci keberhasilan sistem integrasi
tanaman-ternak, disamping teknologi pengolahan dan pemanfaatan kompos untuk
meningkatkan kesuburan lahan. Agar
komponen teknologi tersebut dapat diintegrasikan secara sinergis, maka
pengembangan sistem integrasi tanaman-ternak dilakukan dengan pendekatan
kelembagaan sebab kalau diserahkan kepada petani secara perorangan tidak akan
menguntungkan mengingat penguasaan lahan yang sempit dan pemilikan ternak yang
terbatas (Haryanto et al., 2002 cit Sukar et al., 2005).
KESIMPULAN
Sistem
agroforstry yang akan dilakukan pada suatu daerah seharusnya memperhatikan
berbagai aspek khususnya kearifan lokal setempat, dan harus memperhatikan
produktivitas, keberlanjutan dan adoptable. Pemilihan arah agroforestry
dipikirkan secara tepat dan teliti, antara ecomic
approach atau ecology approach. Penyusunan pola tanam pada sistem agroforestry akan dipengaruhi oleh fungsi tata guna
lahan, kondisi dan letak lahan. Jenis vegetasi yang akan menjadi komponen dalam
sistem akan sangat ditentukan oleh Iklim dan jenis tanah yag terdapat pada
daerah tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Edris, I. dan
Soeseno, O.Silvika. Fakultas Kehutanan. Yogyakarta.
Elly,
F.H., B.M. Sinaga, S.U. Kuntjoro, dan N. Kusnadi. 2008.
Pengembangan Usaha Ternak Sapi Rakyat Melalui Integrasi Sapi-Tanaman di Sulawesi Utara.
Jurnal Litbang Pertanian, 27 (2).
Humphreys, L. R.
2005. Tropical Pasture Utilitisation. Cambridge university press. Cambridge.
Karda,
I.W. dan Spudiati. 2012. Meningkatkan Produktifitas Lahan Marginal
Melalui Integrasi Tanaman Pakan dan Ternak Ruminansia. Fakultas Peternakan Universitas Mataram. ntb.litbang.deptan.go.id diakses tanggal 1 juli
2012.
Karyono. 1980.
Pengalaman dengan agroforestry di jawa, indonesia. Fakultas kehutanan.
Yogyakarta.
Mahendra, F. 2009.
Sistem Agroforestri . Graha Ilmu. Yogyakarta
Soetikno, S. 1990.
Ekologi Gulma. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Sukar, W.I. Werdhani, dan Soeharsono. 2005.
Sistem Integrasi Tanaman-Ternak di Lahan Kering. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta.
Sunarminto, B. H.
2010. Pertanian Terpadu Untuk Mendukung Kedaulatan Pangan Nasional. BPFE UGM.
Yogyakarta.
(Pengarahan Singkat dari Prof. Dr. Ir. Soemitro P, M. Sc, dan Bambang Sowiegnyo S. Pt, M.Sc, Ph. D kepada penulis dan rekan-rekan penulis, sebelum pengambilan data)
Fungsi
Membran Untuk Proses Transpor Dan Peran Kestabilan Membran Pada Mikrobia Dalam
Suhu Ekstrim
1.
Fungsi membran dalam proses transpor nutrien
Membran plasma atau
membran sel tersusun atas molekul lemak dan protein. Molekul lemak terdiri atas
dua lapis, terdapat di bagian tengah membran. Di sebelah luarnya terdapat
lapisan protein perifer (protein tepi), yang menyusun tepi luar dan dalam
membran. Selain protein perifer, terdapat pula molekul-molekul protein tertentu
yang masuk ke dalam lapisan lemak. Bahkan ada yang masuk hingga menembus dua
lapisan lemak. Protein yang masuk ke lapisan lemak itu disebut protein
integral.
Suatu membran tetap
berwujud fluida begitu suhu turun, hingga akhirnya, pada beberapa suhu kritis, fosfolipid
mengendap dalam suatu susunan yang rapat dan membrannya membeku, seperti halnya minyak babi yang membentuk
kerak lemak ketika minyaknya mendingin. Suhu beku membran tergantung pada
komposisi lipidnya. Membran tetap berwujud fluida pada suhu yang lebih rendah
jika membran itu mengandung banyak fosfolipid dengan asam lemak tak jenuh.
Bilayer
lipid merupakan penyusun utama dari membran, tetapi protein yang menentukan
fugsi spesifik membran. Terdapat dua lapisan utama protein, yaitu protein
integral dan poriferal. Protein integral umumnya
merupakan protein transmembran, dengan daerah hidrofobik yang seluruhnya
membentang sepanjang interior hidrofobik membran tersebut. Daerah hidrofobik
protein integral terdiri atas satu atau lebih rentangan asam amino non polar
yang biasanya bergulung menjadi heliks α. Ujung hidrofilik molekul ini
dipaparkan ke larutan aqueous pada kedua sisi membran. Protein poriferal tidak menembus lipid bilayer,
biasanya berada pada di salah satu permukaan.
Fungsi
protein membran :
a. Fungsi transpor material, protein integral yang
membentang sehingga menembus lipid bilayer menjadi saluran hidrofilik sehingga
material/nutrien dapat melewati membran sel yang bersifat spesifik.
Protein membran dapat berfungsi sebagai pembawa (carrier) senyawa-senyawa yang
melewati membran baik secara difusi atau transport aktif. Protein yang
ada di membran dapat menghasilkan ATP untuk digunakan sebagai energi untuk
memompa bahan nutrien ke dalam sel(contohnya mineral Na dan K).
b. Aktivitas enzimatik, salah satu penyusun membran
adalah protein yang salah satu sisi aktifnya dapat menjadi enzim, sehingga
diketahui terjadi banyak proses enzimatik yang terjadi di sekitar membran sel.
c. Pemberiaan sinyal, protein dapat membentuk menjadi
senyawa yang spesifik sehingga menjadi sinyal/penanda.
Beberapa metode/cara yang digunakan untuk melakukan transpor nutrien
sebagai berikut :
a. Difusi sederhana, molekul yang dapat melewati membran
dengan bebas adalah air, oksigen dan karbondioksida. Difusi sederhana ini
memiliki ciri pergerakan molekul dari konsentrasi tinggi ke
konsentrasi rendah (menurut gradien konsentrasi). Mikromolekul dalam bentuk hidrofobik dapat
melewati plasma dengan mudah, sedang makromolekul dan bentuk ion sulit melewati
membran plasma. Molekul yang hidrofobik
dengan mudah melewati lapisan lemak karena larut dalam lemak atau pori pada
lapisan lemak.
b. Difusi dengan adanya carrier/pembawa, yaitu
difusi yang memerlukan penggandeng (carrier) dan bukan memerlukan ATP dari
konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Gerakan transport ini lebih cepat
dibandingkan difusi sederhana. Molekul yang
membawa adalah protein, karena protein mempunyai bagian tertentu yang dapat
menggandeng dengan molekul yang
diangkut.
2.
Peran membran pada mikrobia yang dapat tahan suhu
ekstrim (suhu tinggi ataupun suhu rendah)
Derajad ketidakstabilan membran tergantung pada
tingkat kejenuhan asam lemak. Asam lemak
jenuh akan memberikan sifat yang kaku, berbeda dengan asam lemak yang tidak
jenuh akan memberikan struktur yang lebih cair.
Selain itu fluiditas membran juga dipengaruhi oleh suhu, dimana sel yang
hidup pada daerah suhu yang rendah mempunyai asam lemak tidak jenuh yang lebih
tinggi dibanding dengan sel yang hidup pada suhu tinggi.
Proses metabolisme yang terjadi dalam sel mikrobia
terjadi secara enzimatik, protein merupakan penyusun dari enzim, protein sangat
peka oleh faktor suhu sehingga terdapat titik optimal enzim dapat bekerja.
Mikrobia yang dapat tumbuh di suhu rendah menunjukkan bahwa enzim yang dimiliki
oleh mikrobia tersebut optimal pada suhu tersebut.
Dokumentasi Manajemen Industri Peternakan
Praktikum Manajemen Industri Pakan di PT. JAFPA Sragen. Foto bersama Penulis (Askari Zakariah) dengan Direksi Perusahaan, Dosen Fakultas Peternakan UGM (Prof. Dr. Drh. Soejono, M. Sc, M. Si, Prof. Dr. Ir. Ristianto Utomo, Prof. Dr. Ir. Ali Agus) dan rekan-rekan Mahasiswa
Industri Pakan Ternak
Konsumsi
protein hewani masyarakat Indonesia, semakin hari semakin meningkat. Konsumen
mulai memperhatikan kualitas protein hewani yang dikonsumsinya. Kualitas
protein hewani sangat ditentukan oleh nutrient pakan yang diberikan ke ternak.
Fungsi pakan menjadi sangat penting dalam memelihara kesehatan, daya tahan
tubuh, dan pertumbuhan bagi ternak, sehingga ternak tumbuh sesuai yang
diinginkan.
Pakan adalah segala sesuatu yang
dapat dimakan, disenangi, dapat dicerna sebagian atau seluruhnya, diabsorbsi
dan bermanfaat bagi ternak (Kamal, 1994; Mc Donald et al., 2002). Pakan
merupakan faktor yang mempengaruhi produktivitas ternak, sering dihitung 50%
sampai 75% dari biaya total (Kellems dan Church, 2010). Pakan sebagai central
point dalam usaha peternakan dalam memaksimalkan potensi genetik dari seekor
ternak, menjadikan pakan sebagai faktor yang selalu dikelola secara efektif dan
efisien dalam menekan biaya total produksi untuk memperoleh profit sebesar-besarnya.
Perusahaan pabrik pakan ternak di
Indonesia memiliki peran dalam industri peternakan. Peluang bisnis yang terbuka
di Indonesia menjadikan perusahaan pabrik pakan ternak memiliki peluang yang
cukup baik dalam pengembangannya. Beberapa perusahaan pabrik makanan ternak di
Indonesia yang cukup besar seperti PT. Charoen Pokphand, PT. Japfa Comfeed, PT.
Sierad Produce, dan PT. CJ Feed.
Ketersediaan pakan menjadi persoalan besar bagi perusahaan pabrik pakan ternak,
selain kuantitas permintaan pasar dalam jumlah besar yang harus dipenuhi oleh
pabrik, masalah kualitas tidak dapat diabaikan.
Perusahaan pabrik pakan ternak di
Indonesia memiliki fokus pada produksi
pakan konsentrat. Menurut Agus (1999), pengolahan pakan konsentrat memiliki
tujuan bertujuan
untuk mengubah ukuran partikel, mengubah kadar air,
mengubah densitas pakan, meningkatkan palatabilitas, mengubah kandungan
nutrien, mempertahankan kualitas selama penyimpanan dengan menurunkan kadar
air, dan meningkatkan keuntungan.
Feed
Manufacturing merupakan proses konversi bahan baku menjadi pakan
serasi/seimbang (balance diet) yang dibutuhkan oleh ternak. Feed Manufacturing dapat didefinisikan sebagai suatu proses untuk
menghasilkan produk dalam suatu feed mill
yang memiliki suatu perlengkapan yang dapat memproroses bahan pakan
(misalnya proses grinding dan extruding). Feed Labeling menjadi salah satu poin dalam Feed Manufacturing. Fungsi Labeling adalah sebagai sumber
informasi, termasuk di dalamnya daftar analisis komposisi dan jaminan (Cheeke,
2005).
Proses
produksi pada sebuah pabrik pakan ternak meliputi Pre-mixing, Grinding, mixing, processing, packing. Adanya proses pengolahan bahan baku dalam industri pakan
ternak ternyata menimbulkan dampak, baik menguntungkan maupun merugikan.
Keuntungan yang dapat diperoleh dari proses tersebut dapat dilihat dari segi
biaya, operasional, dan bahan. Ditinjau dari segi biaya, proses pengolahan
bahan baku dapat menurunkan biaya(tenaga kerja, energi, dan produksi); dari
segi operasional akan memudahkan penanganan (handling), pencampuran, dan pengubah bentuk; serta dari segi bahan
akan meningkatkan daya cerna dan palatabilitas. Adapun kerugian proses
pengolahan dalam industri pakan ternak, antara lain adalah terbentuknya debu,
penurunan kadar air, dan berkurangnya volume bahan (Retnani, 2011).
Variasi kualitas dalam pakan jadi
dapat disebabkan oleh beberapa hal yaitu kondisi/kualitas bahan baku, pengaruh
processing, packing, dan penyimpanan
dalam gudang. Kualitas bahan baku dipengaruhi dari faktor perlakuan prapanen, panen, pascapanen, dan
kesuburan tanah serta varietas tanaman. Tanah yang mengandung nitrat yang cukup
tinggi akan memberikan pengaruh pada kandungan nitrat tanaman yang berada disekitar area tersebut.
Jenis varietas antar tanaman akan memberikan kualitas yang berbeda pula,
tanaman yang dirancang tahan terhadap serangan serangga penggerek akan memiliki
serat kasar yang lebih tinggi dibandingkan varietas yang lain.
Perlakuan/penanganan pasca panen dapat mempengaruhi
kualitas bahan baku, penyimpanan bahan baku setelah panen tanpa memperhatikan
kadar air dan kondisi penyimpanan pasca panen dapat menyebabkan penurunan
kualitas bahan baku (ransiditas/tengik, tumbuhnya jamur dan bakteri, serta
invasi serangga).
Efek
dari processing dapat mempengaruhi nilai nutrisi dari suatu pakan jadi,
misalnya dalam proses steam pelleting dengan menggunakan tekanan
yang berbeda akan menghasilkan nilai yang berbeda pula. Metode processing pakan jadi akan sangat mempengaruhi nilai
nutrisinya. Interaksi antar bahan pakan dalam processing sangat mungkin dapat
terjadi, reaksi browning reaction (reaksi
ikatan kompleks senyawa karbohidrat dengan protein yang terjadi pada saat
adanya panas), panas dihasilkan dapat berasal dari metodenya (seperti pada pelleting) atau dari gesekan mesin.
Pencemaran atau kontaminasi dapat berasal dari mesin, metode dan penanganan.
Penggunaan molasses dalam pakan jadi dapat menyebabkan beberapa bahan terikat
dan menempel dengan molasses di dinding mesin, sehingga pada proses pengolahan
pakan jadi dengan komposisi pakan jadi tanpa molasses atau bahan yang menempel
bersama molasses dapat mempengaruhi nila nutrisi pakan jadi. Penambahan
senyawa-senyawa pengawet seperti
antioksidan dalam processing dapat mempengaruhi persentase komposisi kimia
pakan jadi. Menurut Agus (2008), pakan konsentrat seperti tepung ikan yang
dimanfaatkan sebaai pakan ternak dapat ditambahkan senyawa antioksidan seperti
ethoxyquin untuk mencegah minyak menjadi tengik.
TEKNOLOGI HASIL IKUTAN TERNAK DASAR: POTENSI GELATIN IKAN
M Askari Zakariah
(09/288529/PT/5771)
FAKULTAS
PETERNAKAN
UNIVERSITAS
GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2012
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Indonesia yang merupakan Negara yang
memiliki 2/3 bagian areanya adalah laut, sehingga memiliki potensi yang sangat
besar dalam pengembangan aquaculture. Limbah
ikan yang dapat berupa tulang dan kulit menjadi masalah terhadap kerusakan
lingkungan,pasalnya bahan organic dapat menjadi sumber penyakit, dan bau.
Pengembagan teknologi hasil ikutan ternak merupakan solusi cerdas dalam
pemanfaatan hal tersebut. Pembuatan gelatin dari tulang dan kulit ikan menjadi
salah satu alternative environmental friendyl. Gelatin merupakan turunan protein
dari kolagen yang terdenaturasi akibat adanya panas. Pemanfaatan gelatin sangat
luas, salah satunya adalah pada makanan.
Pemakaian gelatin di bidang pangan
mencapai 70% dari total produksi gelatin dunia. Di dalam industri pangan,
gelatin adalah salah satu polimer yang larut air, dapat dipakai sebagai agen
pembentuk gel (gelling), pengental (thickening) dan penstabil (stabilizing).
Gelatin dapat membentuk gel, dan sesuai suhu bersifat reversible, dan gel akan
meleleh pada suhu dibawah suhu tubuh, sehingga memberikan
sifat organoleptik yang unik. Lebih luas gelatin bisa dipakai sebagai
penggumpal, pembentuk sifat elastis, pengemulsi, pembentuk busa, pengikat air,
pelapis tipis (film) dan pemerkaya gizi. Berikut adalah contoh aplikasi gelatin
pada berbagai produk pangan;
- Produk daging olahan: berfungsi untuk meningkatkan daya
ikat air, konsistensi dan stabilitas produk sosis, kornet dan ham.
- Produk susu olahan: berfungsi untuk memperbaiki tekstur,
konsistensi dan stabilitas produk dan menghindari sineresis pada yoghurt,
es krim, susu asam, dan keju cottage.
- Produk bakery: berfungsi untuk menjaga kelembaban produk,
sebagai perekat bahan pengisi pada roti-rotian.
- Produk minuman: berfungsi sebagai penjernih sari buah
(juice), bir dan wine.
- Produk buah-buahan: berfungsi sebagai pelapis (melapisi
pori-pori buah sehingga terhindar dari kekeringan dan kerusakan oleh
mikroba) untuk menjaga kesegaran dan keawetan buah.
- Produk permen dan sejenisnya: berfungsi untuk mengatur
konsistensi produk, mengatur daya gigit dan kekerasan serta tekstur
produk, mengatur kelembutan dan daya lengket di mulut.
Untuk penggunaan di bidang pangan,
gelatin dikategorikan sebagai bahan tambahan pangan (food additive), dan telah
digolongkan dalam generally regarded as
safe (GRAS) (Pranoto, 2012).
Permasalahan seperti
kekhawatiran konsumen terhadap sumber gelatin menjadi sangat serius, ternak
babi dan ternak sapi yang mengidap penyakit mad
cow menjadi titik penting dalam mendukung pemanfaatan sumber gelatin
alternatif. Masyarakat muslim, yahudi memiliki ajaran untuk tidak memakan babi,
lalu umat hindu tidak memakan sapi menjadi faktor hambatan penggunaan gelatin
dari babi dan sapi. Sumber gelatin yang berasal dari ikan sepatutnya harus
dicoba, tetapi perlu terus dikembangkan teknologi proses yang dapat
meningkatkan cita rasa dari makanan yang ditambahkan gelatin yang bersumber
dari ikan. Beberapa penilitian terus dikembangkan, dengan tujuan apakah gelatin
yang bersumber dari tulang dan kulit ikan dapat menggantikan proporsi gelatin
dari sapi atau babi yang ditambahkan kedalam suatu bahan makanan.
Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang diatas maka dapat dirumuskan masalah :
1. Bagaimanakah
karakteristik gelatin yang berasal dari ikan ?
2. Berapa
potensi gelatin yang bersumber dari tulang dan kulit ikan ?
3. Dapatkah
gelatin dari tulang ikan menggantikan proporsi penambahan gelatin dari ternak
sapi dan babi ?
PEMBAHASAN
Karakteristik
gelatin antar spesies dan bangsa ternak akan pasti berbeda hal ini disebabkan
potensi genetik antar ternak berbeda. Faktor spesies, bibit, umur, pakan,
kondisi penyimpanan bahan baku, serta kondisi lingkungan hidup ternak. Menurut Pranoto (2012);
Muyonga et al. (2004), Gelatin ikan
pada umumnya memiliki kekuatan gel lebih rendah dibandingkan gelatin mamalia.
Gelatin hasil ekstraksi dari ikan yang hidup di air hangat memiliki kekuatan
gel lebih baik daripada ikan-ikan perairan dingin dan laut dalam. Faktor yang
mempengaruhi sifat gelatin adalah spesies, bibit, umur, pakan, kondisi
penyimpanan bahan baku, serta kondisi lingkungan spesiesnya. Kekuatan gel
gelatin juga dipengaruhi oleh suhu pematangan gel nya, dimana nilai Bloom akan
meningkat 35-60% ketika suhu diturunkan dari 10oC ke 4oC.
Perbedaan
utama dari gelatin ikan dan gelatin mamalia seperti babi dan sapi pada
komposisi asam amino yang menyusun gelatin, gelatin ikan memiliki kekuatan gel
(gel strenght) lebih rendah dan suhu leleh (gelling point) yang lebih rendah,
namun memiliki viskositas yang relatif lebih tinggi dibandingkan gelatin
mamalia. Gelatin ikan memiliki kekuatan gel dan suhu leleh yang rendah
berhubungan dengan tempat dia hidup. Dimana umumnya kolagen yang berasal dari
lingkungan temperatur rendah mempunyai kandungan asam amino (prolin dan
hidroksiprolin) yang lebih rendah dari spesies yang hidup pada suhu yang lebih
tinggi.
Keunikan
gelatin ikan terletak pada kandungan asam amino penyusun gelatin. Meskipun
semua gelatin tersusun dari 20 asam amino yang sama, namun bervariasi pada
jumlah asam aminonya: prolin dan hidroxiprolin. Dengan jumlah asam amino yang
rendah, ikatan hydrogen dalam larutan air lebih sedikit, dan karenanya terjadi
penurunan pada suhu gelling. Dengan suhu gelling yang lebih rendah, penggunaan
komersial lain dari gelatin ikan sedang dikembangkan (Baziwane and He, 2003).
Gelatin
dengan kadar asam amino tinggi akan memiliki titik leleh lebih tinggi (Muyonga et al., 2004). Titik leleh gelatin akan
meningkat dengan peningkatan berat molekul proteinnya (Jamilah and Harvinder,
2002). Karakteristik gelatin ikan yang memiliki kekuatan gel dibawah kekuatan
gel sapi dan babi, menjadikan beberapa teknologi pengolahan untuk mengupayakan
peningkatan kualitas gelatin dari tulang dan kulit ikan. Penggunaan formaldehid
dan glutaraldehid menjadi salah satu teknik peningkatan kualitasnya. Menurut Jones (2004) bahwa penambahan
formaldehid dan glutaraldehid merupakan cara yang efektif, tetapi penggunaan
bahan kimia tersebut dalam pembentuk ikatan silang tersebut dapat bersifat
toksik untuk dikonsumsi, dan tidak disarankan penggunaannya dalam bidang
pangan. Menurut Draget and Haug (2004), Upaya-upaya lain seperti mengekstraksi
gelatin dari spesies ikan air hangat, hidrolisasi unit prolin, enzim
transglutaminase dan sistem biopolymer campuran. Langkah mencampur gelatin ikan
dengan biopolymer adalah yang banyak digunakan oleh masyarakt eropa. Beberapa
biopolymer yang dikaji seperti alginate, karaginan, dan agar.
KESIMPULAN
Gelatin yang berasal
dari tulang dan kulit ikan memiliki kualitas yang berbeda dengan kulit mamalia
seperti sapi dan babi, yang selama ini merupakan sumber gelatin yang sering
digunakan oleh masyarakat. Potensi gelatin yang bersumber dari ikan sangat
besar, mengingat bahwa indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki
daerah lautan lebih luas dibandingkan daratan. Proses untuk mengganti sumber
gelatin dari sapi dan babi menjadi ikan dapat terjadi jika melalui proses yang
dapat meningkatkan kualitas khususnya pada faktor kekuatan gel.
DAFTAR PUSTAKA
Baziwane, D. and Q. He.
2003. Gelatin: the paramount food additive. Food Reviews International. Vol
(4): 423-435.
Draget, K. and I. Haugh.
2004. Optimalization fish gelatin. Bioproduct Marine Seminar. Norway.
Jamilah, B. and K. G.
Harvinder. 2002. Properties of gelatins from skin of fish-black tilapia and res
tilapia. Food Chemistry. Vol 77:81-84.
Jones, R. T. 2004. Gelatin;
manufacture and physico-chemical properties.
Phamaceutical press. London.
Muyonga, J. H., C. G. B.,
and K. G. Doudu. 2004. Extraction and hysico-chemical characcterisation of Nile
perch (Lates niloticus) skin and bone
gelatin. Food Hydrocolloids. Vol. 18: 581-592.
Pranoto. Y. 2012. Pemanfaatan Gelatin Ikan dalam Industri Pangan. http://www.foodreview.biz/login/preview.php?view&id=55706. Diakses pada tanggal 25 Desember 2012.
16.30.
Langganan:
Postingan (Atom)




